Archive for the ‘Fiqh-Ahkam dan Adab-Akhlak’ Category


Jarak dari pembatas

Dari beberapa nash di artikel sebelumnya maka kita dapat mengerti bahwa seorang yang shalat jangan jauh-jauh dari sutrahnya lebih dari 3 hasta. Jika ia menjauh dari sutrahnya maka ia berdosa dan berarti ia memberikan kemudahan dan kesempatan bagi setan untuk merusak sholatnya. Hal ini berdasarkan sabda beliau Shallallohu ‘alaihi wa Sallam, “Hendaklah (seseorang yang sholat itu) mendekat kepadanya (sutrah) supaya setan tidak memutus sholatnya.”(Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim dan lainnya dengan sanad shahih).

Dan sabda beliau Shallallohu ‘alaihi wa Sallam, “ Dan hendaklah (seseorang yang sholat itu) mendekat kepadanya (sutrah), sesungguhnya setan ingin untuk lewat di antara orang yang shalat itu dengan sutrahnya.” (Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan lainnya).

Kemudian sabda beliau Shallallohu ‘alaihi wa Sallam, “Dan hendaklah ia mendekat kepada sutrah, sesungguhnya setan (berkehendak) untuk lewat di hadapannya.” (Ibnu Khuzaimah dan lainnya dengan sanad shahih).

Disebutkan dalah sebuah riwayat, bahwa beliau Shallallohu ‘alaihi wa Sallam ketika memasuki Ka’bah, beliau membuat jarak dengan tembok sekitar tiga hasta, kemudia sholat.

(lebih…)

Iklan

Ingin sholatmu khusyuk? Tak mau terganggu dengan lalu lalang orang di masjid? Ingin dapat bonus pahala dalam sholat? Bila mau, gunakanlah sutrah!

Tidak oleh suara bising dan gaduh, tidak oleh perasaan yang sering ingin diperhatikan orang lain atau yang sering disebut riya’. Lantas apa yang dilakukan jika hendak sholat di masjid, suatu tempat umum dan banyak orang datang untuk tujuan yang sama sepertinya? Maka banyak orang kita temukan memilih tempat sholatnya di barisan belakang, di pojok-pojok, di pinggir paling belakang dari barisan shaff yang tersedia di masjid. Setelah merasa pas dengan tempat yang dipilihnya, lantas mengangkat kedua tangannya untuk bertakbir Allohu Akbar.

(lebih…)



Pada tahun 80-an masyarakat Yogyakarta dibikin heboh dengan hasil penelitian seorang pelajar SMU yang menunjukkan makin menanjaknya angka pergaulan bebas di kalangan mahasiswa. Kini mereka dibikin gempar lagi dengan penelitian serupa. Hasilnya? 97,05% mahasiswi kota pelajar yang jadi responden ini ternyata sudah raib keperawanannya saat masih kuliah. Naudzubillah! Angka tersebut diperoleh dari penelitian yang digarap oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusian dan Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH)

Yang mengherankan, semua responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa paksaan dan tekanan dari siapapun alias suka sama suka dan merasa ada kebutuhan. Bahkan sebagian mengaku telah melakukannya dengan lebih dari satu pasangan dan ini tidak bersifat komersial. (lebih…)


Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Bagaimana pendapat kalian, seandainya di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian ada sebuah sungai, lalu ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Para shahabat menjawab, ‘Tidak akan tersisi sedikit pun kotoran di tubuhnya.’ Lalu bersabda Rasululloh, “Maka begitu pula lah perumpamaan sholat lima kali sehari semalam, dengan sholat itu Alloh akan menghapuskan semua dosa.” (Bukhari-Muslim)

Sholat memiliki kedudukan yang sangat penting. Ia adalah amal yang sangat dicintai oleh Alloh Subhanahu wa Ta’aala. Ketika Abdulloh bin Mas’ud bertanya kepada Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam, ‘amal apakah yang paling utama?’ maka beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya.”(Bukhari)

(lebih…)


Udah… nggak papa, diambil aja… Aku ikhlas kok.’ Demikian barang kali kalimat yang pernah kamu dengar dari temanmu. Lho…? ikhlas kok diomong-omongin. Bukan ikhlas itu namanya. Lantas? Pernyataan di atas lebih tepat untuk menunjukkan kerelaan, bukan keikhlasan.

Memangnya beda ya antara ikhlas sama rela? Jelas donk…! ada perbedaan mendasar antara keduanya. Meski dalam bahasa Indonesia kedua kata itu merupakan sinonim, akan tetapi sesungguhnya tidak sama persis bila diterapkan dalam pembicaraan masalah agama.

(lebih…)


Lebih Bermakna

Biasanya begitu mendengar akan ada tamu yang datang kita bakal bersiap-siap. Maka lebih layak kalo kita menyambut tamu mulia dan istimewa ini. Nah, gimana kiat biar hari Jum’at menjadi lebih bermakna dan berpahala?

(lebih…)


Hari Jum’at, sering dikesankan (khususnya orang Jawa) dengan hal-hal yang berbau mistik. Lebih-lebih Kamis malam menjelang Jum’at (menurut kalender Masehi). Terlanjur digambarkan saat itu banyak hantu, dukun gentayangan dan hal lain yang menakutkan. Cerita-cerita dusta ini begitu membelenggu jiwa sebagian umat Islam hingga melupakan hal yang benar. Dalam ajaran Islam, hari Jum’at sarat dengan keutamaan. Banyak pahala yang harus diburu.

(lebih…)


Ketentuan jumlah orang untuk seekor hewan qurban

Sudah menjadi  kebiasaan para sahabat dan para Salafus Sholih, setiap datang hari raya Idul Adha, mereka menyembelih seekor kambing untuk dirinya beserta keluarganya, karena meneledani apa yang dicontohkan Rasululloh shallallohu ‘alahi wa sallam, “Dari Abu Ayub radhiyallohu ‘anhu berkata, ada seorang laki-laki pada zaman Rasululloh meneyembelih seekor kambing untuk dirinya beserta keluarganya.”(Tirmmidzi 1505, dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil 1142)

 

Khusus binatang sapi dan onta, maka dibolehkan bersekutu maksimal tujuh orang beserta keluarga masing-masing, hal ini didasari sebuah hadits, “Dari Jabir radhiyallohu ‘anhu berkata, Pada zaman Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam, kami menyembelih sapi untuk tujuh orang dan onta untuk tujuh orang, kami bersekutu di dalamnya.” (Muslim)

(lebih…)


Alhamdulillah bulan Dzulhijah telah kita temui. Pada bulan ini selain diwajibkan ibadah haji bagi kaum muslimin yang mampu, juga terdapat kewajiban lain bagi muslimin yang tidak berangkat haji. Yaitu berqurban. Yuk kita pelajari bagaimana sih Rasululloh itu berqurban, supaya kita bisa berqurban sesuai dengan sunnah beliau. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai qurban, semoga bisa bermanfaat.

(lebih…)


ruangkelas2
Urgensi seorang pendidik sangatlah besar. Profesi sebagai seorang pendidik termasuk profesi paling mulia jika dia bersungguh-sungguh dan ikhlas karena Alloh Subhanahu wa Ta’aala dalam menjalankannya, dan dia mendidik anak didiknya dengan pendidikan Islam yang benar.

Pendidik mencakup para guru, ustadz, pembimbing, termasuk juga ayah dan ibu di rumah serta orang-orang yang memelihara anak-anak. Mereka semua merupakan pendidik para generasi muda. Di pundak merekalah terletak kebaikan dan kerusakan suatu masyarakat. Apabila dia melaksanakan kewajibannya dalam mendidik, dan dia ikhlas serta mengarahkan anak didik kepada agama, akhlak yang mulia serta pendidikan yang baik, maka akan berbahagialah para anak didik juga pendidik di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak pamannya, Ali radhiyallohu ‘anhu : “Demi Alloh, seandainya Alloh memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantara dirimu, maka hal itu lebih baik bagimu dari onta merah.’(Muttafaq ‘alaihi).

(lebih…)